A adalah tipe orang yang ikhlas. Jangan kaget, gajinya sebulan, hanya sekitar 2.500 rupiah per bulan. Dia niatkan hidupnya mengajar di pesantren. api ada saja rizqi tak terduga
Beramal shalih di pesantren, itu memang sudah menjadi tekad saya. Tahun l995, saya lalu menjadi wali kelas di kelas empat PDI, Pendidikan Dasar Islam di Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur.
Sebagai guru di pesantren, mengajarnya tidak cuma di kelas, juga di masjid, di lapangan dan di asrama.
Di kelas mengajarnya mulai pagi hingga siang. Di masjid setiap usai shalat Ashar, Magrib, Isya dan Subuh. Sedangkan di lapangan setiap pagi.
Pagi hari sebelum jam sekolah, anak-anak menyabit rumput dan memungut sampah keliling kampus yang jaraknya lebih dari satu kilometer. Tugas saya adalah memimpin mereka.
Itu pekerjaan ringan. Yang berat, membangunkan anak-anak untuk shalat Subuh.
Membangunkan satu dua anak tak masalah, lha ini jumlahnya 40 anak. Kadang membangunkannya sampai berulang kali. Yang tidur bangun, yang bangun tidur lagi. Karena jengkel, jalan pintas sering saya ambil. Pyur……pyur…. segenggam air menjadi cara yang paling efektif.
Menjaga kebersihan di pondok, ini pun menjadi pekerjaan yang sangat menguras pikiran dan tenaga. Apalagi kalau sudah makan; piring-piring kotor yang menumpuk, sisa nasi yang berserakan, dan air minum yang tertumpah, itu pemandangan rutin setiap selesai makan.
Belum lagi kalau menengok ke dalam kamarnya santri, wuiih…! Pakaian bergelantungan di sana-sini, ada pula yang menumpuk di bawah ranjang, sisa makanan yang sudah membusuk di bawah lemari, bantal yang berhamburan kapasnya dan buku-buku yang berserakan. Pasti pusing melihatnya!
Semuanya itu harus dibereskan, dan sayalah yang bertanggung jawab. Namun, tugas yang sangat berat ini saya jalani saja. Niat awal masuk pesantren memang bukan untuk senang-senang, tapi untuk memanfaatkan sisa umur demi kepentingan agama.
Gaji? Tentu saja ada. Jangan kaget, besarnya Rp 2.500 per bulan! Memang kecil, namun kami tetap menjalankan tugas dengan penuh amanah, karena bukan itu yang menjadi tujuan. Kalau mau gaji besar dan kemewahan dunia, tentulah tidak memilih tinggal di pesantren.
Alhamdulillah, gaji yang menurut perhitungan akal tidaklah cukup dalam satu bulan, namun karena ketawakalan, Allah SWT mencukupkan. Ada saja riqki yang datangnya tidak disangka-sangka. Jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji yang ada. Bahkan kalau ada kebutuhan yang sangat mendesak sekalipun, Allah SWT juga memberikan jalan keluar.
Suatu ketika saya mau mengajar, celana saya kebetulan tinggal satu, dari tiga celana yang saya miliki. Dua telah raib entah kemana, hal lumrah terjadi di asrama. Ternyata yang satu pun hilang juga. Akhirnya saya terpaksa mengajar dengan pakai sarung.
Melihat saya pakai sarung, kepala sekolah bertanya, ”Lho pak, kenapa mengajar pakai sarung?”
“Hilang semua Pak celananya.”
“Kalau begitu nanti pulang sekolah jalan-jalan ke rumah.”
Ba’da dhuhur, saya ke rumah kepala sekolah. Setelah ngobrol sambil menikmati teh manis hangat dan kue-kue,pulangnya saya diberikan bingkisan. Setiba di asrama saya buka bingkisan tersebut, ternyata isinya celana tiga buah. Alhamdulillah, Allah SWT tidak akan telat untuk memenuhi kebutuhan hambanya.
Komentar Terbaru