Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, Kebebasan.

Berbudi Tinggi , Berbadan sehat, Berpengetahuan Luas, Berfikir Bebas, Beramal Ikhlas.

Archive for the ‘ Taushiyah ’ Category

Here is Problem

by mg | July 5, 2009 | In Ma'haduna, Taushiyah No Comments

Weblog www.ahimsa04.com mengalami masalah serius. Penyedia layanan domind saat ini tidak dapat dihubungi dan tidak diketahui  nasibnya. Akibatnya administrator tidak dapat memperpanjang masa kontrak penggunaan domind. Untuk itu administrator telah mengambil langkah antisipatif dengan membuat weblog baru di www.ahimsamember.wordpress.com.

Selain masalah domind, weblog ini juga bermasalah dalam upload foto sehingga belum ada satu foto pun yang bisa ditampilkan. Sedangkan di weblog yang baru, upload foto tidak mengalami masalah sehingga suasananya akan dapat lebih semarak dengan foto. Namun bukan berarti weblog baru ini  tidak memiliki keterbatasan. Tampilan weblog yang baru ini sederhana dan tidak dapat di-customize dengan leluasa.

Terlepas dari kekurangan yang ada pada masing-masing weblog, mari kita gunakan fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga dan mempererat ukhuwah kita. Salam redaksi

7 Keajaiban Dunia

by mg | January 31, 2009 | In Taushiyah 4 Comments

Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari ‘Tujuh Keajaiban Dunia’.
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi sbb :

1] Piramida
2] Taj Mahal
3] Tembok Besar Cina
4] Menara Pisa
5] Kuil Angkor
6] Menara Eiffel
7] Kuil Parthenon

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, se orang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.
Gadis pendiam itu menjawab, ‘Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya ‘keajaiban itu’. Sang guru berkata,’Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya’.
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, ‘Saya pikir, ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ itu adalah :

1] Bisa melihat,
2] Bisa mendengar,
3] Bisa menyentuh,
4] Bisa menyayangi,
5] Bisa merasakan,
6] Bisa tertawa, dan
7] Bisa mencintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya ‘keajaiban’. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai ‘biasa’.

Sumber : http://ukhuwah.or.id/

Rasul Bersabda: “Ataakum Ramadhaana Sayyidu asy Syuhuuri Famarhaban bihi Wa Ahlan“.

Ramadhan telah tiba dengan membawa segudang berkah. Bulan yang agung. Bulan yang lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, selaku insan yang lemah dan hina ini, ijinkan hamba menghaturkan maaf beribu maaf, kepada rekan-rekan Ahimsa ers, atas kesalahan yang sengaja maupun tidaksengaja.

Mari senantiasa kita setting niat untuk tulus ikhlas beribadah kepada-Nya yang Kuasa. Meng Upgrade Iman, Mendownload rasa sabar, mendelete segala dosa dan kehinaan yang ada, mengapprove maaf teman-teman dan menghunting pahala sebanyak-banyaknya, agar kita mendapatkan GUEST LIST masuk surga. Amiin Ya Rabbal Alamin.

Mari pereerat persaudaraan, saling doa mendoakan, dan saling maaf memaafkan, agar diri kita suci untuk menghadap bulan yang rahmat, hidayat, dan penuh barakah Insya Allah.

Terakhir, Selamat menunaikan Ibadah Puasa, semoga amalan yang kita kerjakan pada bulan ramadhan nanti, senantiasa diterima oleh Sang Pengasih dan Penyayang.

Sore itu hampir sama dengan sore-sore sebelumnya, saya pulang dari kantor dengan jalur Mampang - Pasar Minggu - Depok. Keluar dari satu kemacetan, kembali saya membaur bersama pengendara kendaraan lain dalam kemacetan di titik berikutnya. Untuk mempercepat, seperti biasa saya mengambil lajur paling kiri, di mana ada sedikit ruang untuk satu motor bisa bergerak yang memungkinkan bagi pengendara motor bisa sedikit leluasa dibanding pengendara mobil.

Beberapa ratus meter sebelum saya berbelok ke kiri, saya melihat seorang bapak berdiri di pinggir, mungkin mau menyeberang, begitu pikir saya. Ternyata saya salah kira. Sesaat setelah motor dihadapan saya melewati bapak itu dan tak ada penghalang antara saya dengan beliau, tiba-tiba salah satu kakinya bergerak ke depan, dan dengan kakinya itu beliau menyingkirkan sebuah batu sebesar kepalan tangan dari jalan.

—-

Abu Hurairah ra. Berkata, Rasulullah bersabda: Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan shodaqohnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah shodaqoh, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkatkan barang ke atas kendaraannya adalah shodaqoh, kata-kata yang baik adalah shodaqoh, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan sholat adalah shodaqoh, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah shodaqoh. (HR Bukhari dan Muslim)

“Senyum anda kepada saudara anda adalah shadakah, dan perintah kepada yang ma’ruf serta larangan dari yang mungkar itu shadakah, petunjukmu pada seorang asing yang tersesat itu sedekah, engkau menuntun orang yang sulit melihat itu shadakah, menyingkirkan batu dan duri dari jalan itu adalah sadakah, dan engkau membantu mengambilkan air untuk sahdaramu itu adalah sedekah. ” (Hadits riwayat Turmudzi )

—-

Dengan perbuatannya itu, tanpa disadari oleh banyak orang yang melewati jalan tersebut, sang bapak telah menyelamatkan atau setidaknya memberikan kenyamanan kepada para pengguna jalan, khususnya para pengendara kendaraan, lebih khusus lagi para pengendara motor.

Menyelamatkan para pengguna jalan, karena dengan tidak adanya batu di lajur tersebut, tak ada roda motor yang melindas batu tersebut. Bila saja ada roda motor yang melindas batu tersebut, kemudian pengendaranya tak bisa menjaga keseimbangan, tak ayal lagi kecelakaan akan terjadi. Seperti pengalaman saya beberapa tahun yang lalu ketika pulang kuliah di malam hari. Dengan kecepatan yang cukup tinggi saya memacu motor saya. Tiba-tiba roda depan motor saya menghantam sesuatu, akibatnya motor saya berhenti mendadak. Untunglah di belakang saya tidak ada kendaraan lain. Bila saja ada, entah apa yang akan terjadi. Wallahu a’lam.

Menyamankan pengendara motor, karena tanpa adanya batu tersebut, pengendara motor tak perlu berpindah lajur atau mengurangi kecepatan dan memilih bagian jalan lain agar tidak melindas batu tersebut.

Terima kasih, Pak, atas sedekah Bapak sore itu. Semoga Allah membalas amal yang telah Bapak lakukan. Amin.

Sedikit, Tapi Cukup

by mg | August 20, 2008 | In Taushiyah No Comments

A adalah tipe orang yang ikhlas. Jangan kaget, gajinya sebulan, hanya sekitar 2.500 rupiah per bulan. Dia niatkan hidupnya mengajar di pesantren. api ada saja rizqi tak terduga

Beramal shalih di pesantren, itu memang sudah menjadi tekad saya. Tahun l995, saya lalu menjadi wali kelas di kelas empat PDI, Pendidikan Dasar Islam di Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sebagai guru di pesantren, mengajarnya tidak cuma di kelas, juga di masjid, di lapangan dan di asrama.

Di kelas mengajarnya mulai pagi hingga siang. Di masjid setiap usai shalat Ashar, Magrib, Isya dan Subuh. Sedangkan di lapangan setiap pagi.

Pagi hari sebelum jam sekolah, anak-anak menyabit rumput dan memungut sampah keliling kampus yang jaraknya lebih dari satu kilometer. Tugas saya adalah memimpin mereka.
Itu pekerjaan ringan. Yang berat, membangunkan anak-anak untuk shalat Subuh.

Membangunkan satu dua anak tak masalah, lha ini jumlahnya 40 anak. Kadang membangunkannya sampai berulang kali. Yang tidur bangun, yang bangun tidur lagi. Karena jengkel, jalan pintas sering saya ambil. Pyur……pyur…. segenggam air menjadi cara yang paling efektif.

Menjaga kebersihan di pondok, ini pun menjadi pekerjaan yang sangat menguras pikiran dan tenaga. Apalagi kalau sudah makan; piring-piring kotor yang menumpuk, sisa nasi yang berserakan, dan air minum yang tertumpah, itu pemandangan rutin setiap selesai makan.
Belum lagi kalau menengok ke dalam kamarnya santri, wuiih…! Pakaian bergelantungan di sana-sini, ada pula yang menumpuk di bawah ranjang, sisa makanan yang sudah membusuk di bawah lemari, bantal yang berhamburan kapasnya dan buku-buku yang berserakan. Pasti pusing melihatnya!

Semuanya itu harus dibereskan, dan sayalah yang bertanggung jawab. Namun, tugas yang sangat berat ini saya jalani saja. Niat awal masuk pesantren memang bukan untuk senang-senang, tapi untuk memanfaatkan sisa umur demi kepentingan agama.

Gaji? Tentu saja ada. Jangan kaget, besarnya Rp 2.500 per bulan! Memang kecil, namun kami tetap menjalankan tugas dengan penuh amanah, karena bukan itu yang menjadi tujuan. Kalau mau gaji besar dan kemewahan dunia, tentulah tidak memilih tinggal di pesantren.
Alhamdulillah, gaji yang menurut perhitungan akal tidaklah cukup dalam satu bulan, namun karena ketawakalan, Allah SWT mencukupkan. Ada saja riqki yang datangnya tidak disangka-sangka. Jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji yang ada. Bahkan kalau ada kebutuhan yang sangat mendesak sekalipun, Allah SWT juga memberikan jalan keluar.

Suatu ketika saya mau mengajar, celana saya kebetulan tinggal satu, dari tiga celana yang saya miliki. Dua telah raib entah kemana, hal lumrah terjadi di asrama. Ternyata yang satu pun hilang juga. Akhirnya saya terpaksa mengajar dengan pakai sarung.
Melihat saya pakai sarung, kepala sekolah bertanya, ”Lho pak, kenapa mengajar pakai sarung?”

“Hilang semua Pak celananya.”

“Kalau begitu nanti pulang sekolah jalan-jalan ke rumah.”

Ba’da dhuhur, saya ke rumah kepala sekolah. Setelah ngobrol sambil menikmati teh manis hangat dan kue-kue,pulangnya saya diberikan bingkisan. Setiba di asrama saya buka bingkisan tersebut, ternyata isinya celana tiga buah. Alhamdulillah, Allah SWT tidak akan telat untuk memenuhi kebutuhan hambanya.

Musibah bisa saja terjadi pada setiap orang, terlepas dari dia soleh atau tidak, muslim atau tidak, tua atau muda. Musibah gempa bumi yang terjadi, misalnya, sekaligus menimpa berbagai tipe orang yang tersebut diatas. Lalu, bagaimanakah kita menyikapi musibah?

Agama mengajarkan agar kita mengambil hikmah dari musibah.

Pertama, bagi muslim yang soleh musibah ditujukan untuk menguji keimanan (QS 29: 2-3). Sebab, seorang yang mengaku beriman kepada Allah belum tentu sungguh-sungguh beriman. Karenanya, Allah perlu menguji mereka yang mengaku beriman dengan sesuatu, misalnya, berupa banjir bandang, gempa bumi, penyakit atau kesulitan ekonomi. Jika mereka tetap sabar dan istiqamah di jalan Allah, berarti mereka itulah orang yang sungguh beriman dan Allah akan menaikkan derajatnya sekaligus menghapus sebagian dosa-dosanya melalui musibah ini. Mereka akan mendapat kabar gembira berupa surga dan kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalamnya. (QS 41:30).

Kedua, bagi setiap muslim musibah bisa pula sebagai peringatan agar mereka mau kembali ke jalan yang benar (QS 30:41). Allah SWT menegaskan, berbagai musibah terjadi di muka bumi adalah karena ulah manusia itu sendiri (QS 30: 41). Dalam hadis riwayat Al-Hakim dijelaskan, apabila umat manusia melakukan berbagai kemungkaran dan kemaksiatan maka akan datang kepada mereka bencana berupa gempa bumi, kekeringan, dan penyakit-penyakit yang berbahaya. Musibah dahsyat semoga menyadarkan manusia kembali ke jalan-Nya.

Ketiga, musibah juga berarti peringatan dari Allah bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk sangat lemah di hadapan Allah Kesadaran ini perlu terus ditumbuhkan karena manusia berkecenderungan merasa adigang, adigung, dan adiguna (paling kuat, paling besar, dan paling berguna) sehingga sombong. Kesombongan inilah yang menyebabkan kita sering menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Firman Allah SWT, ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS 17: 37).

Keempat, dengan musibah-musibah tersebut Allah SWT barangkali ingin mengambil sebagian hambanya sebagai syuhada. Sekalipun Dia mengutuk manusia dengan bencana, tetapi orang-orang mukmin yang ikut terkena musibah jika bersabar akan mendapat pahala besar. Sebaliknya, bagi yang meninggal dunia mereka adalah syuhada (QS 3: 140).

Kelima, bagi orang-orang yang ingkar dan tidak beriman, suatu musibah tidak lain adalah azab atau siksaan yang ia peroleh di dunia ini. Sesungguhnya musibah tersebut sebagian yang sangat kecil dari siksa akhirat yang didahulukan Allah SWT di muka bumi ini bagi mereka. Azab itu sendiri terjadi ketika manusia yang ada membiarkan berbagai kemaksiatan dan kemungkaran terjadi di sekitarnya tanpa peduli. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya manusia jika mereka melihat orang yang berbuat zholim dan tidak mencegahnya, maka telah dekatlah azab Allah yang akan menimpa mereka seluruhnya” (HR At-Tirmidzi)

Keenam, Allah ingin menguji kesalehan sosial para hamba-Nya yang tidak terkena musibah, apakah mereka terketuk hatinya untuk membantu saudara-saudara mereka yang sedang menderita atau tidak. ”Perumpamaan orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain adalah seumpama badan, jika salah satu anggota badan sakit maka seluruh jasad ikut merasakan sakit hingga merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, musibah alam misalnya gempa bumi sesungguhnya cara Allah untuk menunjukkan tanda-tanda kiamat sehingga memperkuat keyakinan bahwa hari kiamat pasti akan terjadi (QS 56:1-7). Ini agar umat manusia sadar akan adanya kehidupan hakiki di hari akhir, lalu mereka mau berjuang membela kebenaran di muka bumi untuk kebahagiaan di hari akhir.